|
|

|
I. NAMA
DOKTER
-
drg.
Soeyoto
-
drg. Adi
Wiyono
-
drg.
Aris Nindyo P
II. ILMU
BEDAH MULUT
Ilmu bedah
Mulut adalah suatu cabang ilmu kedokteran gigi yang mengobati penyakit
gigi dan mulut dengan jalan operasi.
III.
Penyakit –penyakit
yang memerlukan tindakan
darurat
1.
Phiegmon atau disebut juga LUDWIC,S
ANGINA
|
a. Penyebab penyakit |
infeksi yang
berasal dari geligi geraham rahang bawah yang menembus/ menyebar
ke rongga submandibula, sublingual dan submental kiri dan kanan.
Infeksinya merupakan selulitis yang menyebar dengan cepat.
|
|
b. Gejala Awal |
pembengkakan
jaringan lunak sekitar gigi yang berlubang, lidah terasa
terangkat, untuk membuka mulut menjadi sulit, liur menetes,
kesulitan menelan dan kesulitan bernafas.
|
|
c. Perawatan sederhana sebelum ke Dokter |
kompres dingin
pada daerah sekitar pembengkakan, kompres dingin dahi apabila
dirasakan suhu tubuh meningkat, banyak minum untuk mencegah syok
atau kekurangan caiaran, makanan lunak yang memadai gizi dan
jumlahnya.
|
|
d. Komplikasi penyakit |
septikemia,
dehidrasi,syok, disfagia / tidak bisa menelan makanan, asfiksia
/ tidak bisa bernafas.
|
|
e. Cara pencegahan |
kontrol
keadaan umum tubuhnya ke dokter, menjaga kebersihan gigi dan
mulut, kontrol ke dokter gigi secara teratur
setiap tiga bulan walau
tidak merasakan keluhan sakit.
|
2.
DISLOKASI RAHANG BAWAH
| a.
Penyebab
Penyakit |
benturan atau
desakan pada dagu sewaktu mulut dalam keadaan terbuka, misalnya
karena kecelakaan, operasi gigi / mulut yang lama, menguap
lebar, tertawa terbahak-bahak, menggigit makanan yang besar,
berteriak ketakutan dan sejenisnya.
|
|
b. Gejala awal yang perlu diketahui |
pasien tidak
mampu menutup mulutnya dengan sempurna, terjadi penonjolan sendi
rahang satu sisi atau dua sisi, terjadi bunyi klik atau
gemeretak mengikuti pembukaan maupun penutupan rahang .
|
|
c. Perawatan sederhana sebelum ke dokter |
relaks supaya
otot rahang dan oto muka tidak tegang, membebat rahang dengan
kain kasa / pembalut dagu .
|
|
d. Komplikasi penyakit |
rahang
terkunci sehingga sulit untuk berbicara dan menelan makanan,
terjadi pembengkakan, terbiasa
mengalami dislokasi rahang.
|
|
e. Cara pencegahan |
membatasi
gerakan rahang, mengunyah makanan dengan geligi di kedua sisi
rahang, segera mengganti gigi yang sudah dicabut dengan prokesa
gigi di dokter gigi.
|
3.
PATAH TULANG RAHANG.
| a.
Penyebab penyakit |
penyakit
–penyakit tulang umum, penyakit –penyakit tulang
lokal,trauma karena kecelakaan lalu lintas, pukulan jatuh , olah
raga, pencabutan gigi, kecelakaan kerja dan lain-lain.
|
|
b. Gejala awal
yang perlu diketahui |
nyeri
perdarahan dalam mulut, memar, ada pembengkakan, perubahan warna
jaringan sekitarnya, bunyi gesekan tulang, kemampuan mengigit
menyimpang, ada pergerakan rahang yang tidak normal.
|
|
c. Perawatan sederhana sebelum ke Dokter |
kompres
dingin, mempertahankan posisi agar rahang tidak banyak bergerak
dengan membalut kepala.
|
|
d. Komplikasi penyakit |
tersumbatnya
jalan nafas, infeksi, tidak menyambungnya ujung – ujung
tulang yang patah, membuka dan menutup mulut menjadi
tidak normal, kerusakan syaraf oleh potongan tulang.
|
|
e. Cara pencegahan |
memakai
pengaman yang memadai, kontrol ke dokter / dokter gigi
walautidak ada keluhan.
|
4.
MALPOSISI GIGI AKIBAT TRAUMA
| a.
Penyebab penyakit |
trauma
benturan, kesalahan pencabuta gigi.
|
|
b. Gejala
awal |
gigi goyang,
lepas dari tulang penyangganya padahal gigi tidak patah.
|
|
c. Perawatan sederhana sebelum ke dokter |
merendam gigi
utuh yang lepas di dalam larutan garam atau air suling, tulang
penyangga gigi yang berdarah ditutup tampon.
|
|
d. Komplikasi |
gigi tidak
dapat dikembalikan sempurna pada tulang penyangganya, gigi tetap
goyang setelah 3 ( tiga ) bulan dilakukan replantasi, terjadi
ankilosis, terjadi resorbsi akar gigi, terjadi
kelainan tulang penyangga gigi.
|
|
e. Cara
pencegahan |
memakai
pengaman yang memakai, berkomunikasi yang jelas dengan petugas
kesehatan gigi bila akan mencabutkan gigi.
|
5.
PERDARAHAN SETELAH PENCABUTAN / OPERASI GIGI / MULUT
| a.
Penyebab |
rauma melanik
atau kecelakaan, kelainan atau gangguan mekanisme pembekuan
darah.
|
|
b. Gejala awal |
darah tetap
mengalir keluar dari luka bekas pencabutan / operasi gigi /
mulut beberapa jam setelah tampon dilepas.
|
|
c. Perawatan sederhana |
penekanan
lokal, kompres dingin, mengulum es batu, tidak boleh untuk kumur
atau dihisap.
|
|
d. Komplikasi |
infeksi,
pembengkakan dan syok karena
kekurangan cairan tubuh atau kekurangan darah.
|
|
e. Cara
pencegahan |
terbuka kepada dokternya tentang riwayat penyakit, riwayat
perdarahan dan pemakaian obat-obatan, mengikuti test
laboratorium yang berhubungan dengan faal darah dan gangguan
pembekuan darah, menjaga kebersihan dan kesterilan luka operasi
dari trauma.
|
6.
NYERI GIGI DI MALAM HARI
| a.
Penyebab |
gigi berlubang
yang lama dan tidak terawat, infeksi yang menekan syaraf gigi
atau mendesak selaput tulang penyangga gigi dan selaput tulang
rahang.
|
|
b. Gejala awal |
gigi nyeri
berdenyut tanpa rangsangan dari luar, gigi terasa menonjol
serasa mau keluar dari tempatnya.
|
|
c. Perawatan
sederhana |
menempelkan
kapas yang sudah ditetesi minyak cengkeh pada lubang gigi yang
sakit.
|
|
d. Komplikasi |
gigi mati
membusuk, jaringan
penyangga gigi rusak, pembengkakan tulang rahang.
|
|
e. Cara
pencegahan |
segera
merawatkan gigi yang berlubang walau belum terasa sakit.
|
IV. PERKEMBANGAN
OKLUSI
Oklusi
adalah perubahan hubungan permukaan gigi geligi pada Maksila dan
mandibula, yang terjadi selama pergerakan Mandibula dan berakhir dengan
kontak penuh dari gigi geligi pada kedua rahang. Oklusi terjadi karena
adanya interaksi antara Dental system, Skeletal systemdan iluscular
system. Oklusi gigi geligi bukanlah merupakan keadaan yang statis selama
mandibula bergerak, sehingga ada bermacam-macam bentuk oklusi, misalnya
: centrik, excentrik, habitual, supra-infra, mesial, distal,lingual dsb.
Dikenal
dua macam istilah oklusi yaitu :
-
Oklusi
ideal :
Adalah merupakan suatu konsep teoritis oklusi yang sukar atau
bahkan tidak mungkin terjadi pada manusia.
-
Oklusi
normal : Adalah
suatu hubungan yang dapat diterima oleh gigi geligi pada rahang yang
sama dan rahang yang berlawanan, apabila gigi –geligi dikontakkan
dan condylus berada dalam fossa glenoidea.
Selain
itu astilah maloklusi, yaitu yang menyangkut hal –hal diluar oklusi
normal. Pada oklusi normal masih memungkinkan adanya beberap variasi
dari oklusi ideal yang secara fungsi maupun estetik masih dapat
diterima/ memuaskan.
Ada
dua tahap oklusi pada
manusia :
-
Perkembangan gigi geligi susu
-
Perkembangan gigi geligi permanen.
Perkembangan
gigi –geligi susu
Seluruh gigi
geligi susu akan lengkap erupsi pada anak berumur lebih kurang 2,5
tahun. Pada periode ini lengkung gigi pada umumnya berbentuk oval dengan
gigitan dalam ( Deep bite ) pada overbite dan overjet dan dijumpai
adanya “ generalized interdental spacing ( celah –celah diantara
gigi- geligi ). Hal ini terjadi karena adanya pertumbuhan tulang rahang
kearah transversal untuk mempersiapkan tempat gigi –gigi permanen yang
kan tumbuh celah yang terdapat dimenssial
cainus atas dan disebelah distal caninus bawah disebut
“primate space “ . Primate space ini diperlukan pada “
early mesial shift “.
Adanya celah
–celah ini memberi kemungkinan gigi-gigi permanen yang akan erupsi
mempunyai cukup tempat, sebaiknya bila tidak ada memberi indikasi
kemungkinan terjadi gigi berjejal ( crowding ).
Hubungan
molar kedua dalam arah sagital dapat
:
-
Berakhir pada satu garis terminal ( flush terminal plane ), yang
merupakan garis vertikal disebelah distal molar kedua.
-
Molar kedua mandibula letaknya lebih kedistal dari molar kedua
maksila (distal step ) .
-
Molar kedua mandibula lebih kearah mesial molar kedua maksila (
mesial step ) .
Perkembangan
Oklusi gigi- geligi permanen. Foster ( 1982 ) membagi dalam tiga tahap
perkembangan :
1.
Tahap erupsi molar pertama dan incisivi permanen.
Tahap
1 ( terjadi pada umur antara 6 – 8 tahun )
Terjadi
penggantian gigi inncisivi dan penambahan molar pertama permanen . Pada
umur 6,5 tahun ketika incisivus sentral atas erupsi akan terlihat space
pada garis median prosesus alveolaris sehingga dapat menyebabkan
kesalahan diagnosis sebagai suatu keadaan frenulum yang abnormal,
keadaan ini disebut dengan istilah “ Ugly duckling stage “.
Kadang –kadang
incisivi permanen terlihat croding pada saat erupsi dan incisivi
Lateral
berhimpitan ( overlap ) dengan gigi caninus susu. Keadaan ini bisa
diatasi bila terdapat leeway space. Leeway space adalah perbedaan
ruangan antara lebar mesiodistal gigi caninus, molar pertama dan kedua
susu dengan caninus premolar pertama dan kedua permanen.
Hubungan distal
molar kedua susu atas dan bawah mempengaruhi hubungan molar pertama
permanen, molar pertama permanen penting peranannya pada tinggi vertikal
rahang selama periode penggantian gigi susu menjadi gigi permanen . Pada
umur 8 tahun incisivi dan molar pertama permanen telah erupsi. Apabila
incivisi atas lebih dulu erupsi dari yang bawah, dapat menyebabkan
terjadinya gigitan dalam (
deep overbite ). Dengan
adanya pertumbuhan gigitan dalam yang terjadi dapat terkoreksi dengan
occlusal adjustment yang terjadi kemudian.
2.
Tahap erupsi caninus, premolar dan molar kedua.
Tahap
2 ( terjadi pada umur antara 10 – 13 tahun )
Pada tahap ini
bila molar susu bawah sudah
diganti oleh premolar permanen, sedangkan molar susu atas belum, maka
akan terdapat penambahan besar overbite dan bila sebaiknya maka kontak
gigi terlihat edge.
3.
Tahap erupsi molar ketiga.
Tahap 3 (
tahap erupsinya molar ketiga )
Penyesuaian
oklusi ( occusal adjustment )
Menurut
Salzmann ( 1966 ) terdapat 3
mekanisme yang berbeda pada penyesuaian oklusi normal gigi susu keperiode
gigi bercampur sampai tercapai stabilisasi pada periode gigi permanen :
-
Jika bidang vertikal dari permukaan distal molar kedua susu atas terletak
distal molar kedua susu bawah maka molar prtama permanen akan menempati
sesuai dengan oklusi pada gigi susu.
-
Jika terdapat primate space dan bidang
vertikal molar kedua susu segaris, maka terjadi oklusi normal pada
molar pertama permanen, karena adanya pergeseran
molar susu kemesial sehingga ruangan tersebut tertutup.
-
Jika bidang vertikal sama dan molar pertama permanen hubungannya
cusp, maka oklusi normal terjadi karena adanya pergeseran kemesial yang
terjadi kemudian setelah molar kedua susu tanggal.
Periode diantara
periode gigi susu dan gigi –gigi permanen disebut periode gigi –gigi
bercampur. Menurut Moyers ( 1974 ) adalah merupakan periode dimana gigi
susu dan permanen berada bersama-sama didalam mulut .
Gigi- geligi
tetap yang adan dibagi atas dua kelompok :
-
Successional
Teeth, gigi permanen yang menggantikan gigi susu.
-
Accesssional
Teeth, gigi tetap yang erupsi diposterior dari gigi susu.
Dua aspek
penting pada periode gigi – geligi bercampur adalah :
|
 |
|